Rabu, 04 Juni 2014

Untuk Kamu Yang Telah Menganggap Aku Tak Ada

Diposkan oleh Rara Sabria di 22.30
Reaksi: 
Mungkin kamu pernah punya seseorang yang sangat kamu cintai, sampai kamu lupa bahwa dengan mencintai dia kamu menyakiti dirimu sendiri. 

Mungkin aku pernah berada dalam posisi itu, membiarkan diriku disakiti oleh orang yang aku sayangi, pura-pura tetap tegar berdiri seakan tidak terjadi apa-apa.

Ternyata aku tidak sekuat itu.


Dari aku yang pernah kamu cintai, dulu.




Malam itu setelah magrib kita bertemu. Aku memulai semuanya dengan menggoreng semangkuk kentang hangat untukmu. Aku tahu kamu kedinginan karena menghadang gerimis dijalan. Aku menyuruhmu masuk untuk menghangatkan badan. Memakai selimut dan tidur agar suhu tubuhmu kembali normal. Kita memulai malam itu dengan obrolan-obrolan konyol seperti biasanya. Sambal menonton sule yang terus menerus mengocok perut kita dengan banyolannya. Senyum, iya kamu tersenyum. Itu yang paling aku suka, melihat kamu tersenyum.
Aku jarang melihatmu tersenyum sejak peristiwa itu. Ketika aku mengakui semua kebohonganku padamu dan berusaha tetap tegar menerima keputusan sepihak yang kamu berikan. Kamu ingin kita menjadi teman. Bagaimana mungkin aku bisa berteman baik dengan orang yang aku cintai? Itukan namanya Friendzone. Yang benar saja, kamu menyuruhku untuk mengakhiri dan melupakan semuanya. Awalnya aku benar-benar tidak bisa terima. Semua rutinitas yang telah kita lakukan bersama, bagaimana mungkin aku bisa melupakan semua itu dalam waktu dekat? Bagaimana mungkin aku bisa pura-pura bahagia dengan kondisi seperti itu? Kamu egois.
Aku masih terus berusaha mengerti, mengerti kemauanmu, mengerti semua hal yang kamu inginkan, mengerti kamu tidak ingin aku dekati dan perhatikan. Mungkin maafku saja belum cukup untuk menghapus semua kesalahan-kesalahan bodoh yang telah aku lakukan padamu. Aku salut pada orang yang aku cintai, bisa memaafkanku dan menginginkan aku menjadi diriku sendiri. Aku memang salah dan bodoh, membohongi perasaanku sendiri dan orang yang aku cintai.
Malam itu, hal yang paling aku ingat dari semuanya adalah ketika kamu membuka handphone ku. Berusaha melihat pesan di WhatsApp yang dikirim oleh seseorang. Seseorang yang selalu memberikanku semangat di saat kamu memilih untuk pergi. Seseorang yang selalu ada disaat kamu bahkan tak ingin menolehkan pandanganmu kepadaku. Seseorang yang selalu membuat aku tersenyum, menggantikan raut sedih yang ada karena kehilangan kamu. Iya, dia. Dia yang pernah kamu Tanya, apakah dia memiliki hubungan special denganku. Dia yang kamu bilang menjelek-jelekan dirimu padahal dia adalah orang yang nomor 1 selalu mendukungku untuk balikan denganmu.
Ketika kamu membaca pesan itu, aku ingat raut wajahmu berubah seketika. Berubah karena panggilan ‘yang’ yang aku gunakan di pesan itu untuk memanggilnya. Panggilan yang membuat kamu tiba-tiba diam dan langsung berkata semenit kemudian. ‘Tuh kan bener kalian jadian, aku bilang apa, temen curhat-curhatan tuh nggak bakal Cuma curhat doang. Nggak mungkin selalu ngebahas hal yang sama, pasti ada hal lain yang dibahas. Sekarang bener kan, apa yang aku bilang kejadian. Aku juga pernah ngalamin yang kaya kamu gini.’ Apa yang aku lakukan? Aku Cuma bisa diam. Diam 5 menit, kemudian berusaha meraih iphone yang ada di meja, iphone kamu. Kalau seseorang nggak memiliki rahasia, dia pasti mau memberikan hpnya untuk di cek kan? Ini belum dipegang aja udah ketakutan gitu. Pas dibuka juga yang aku temuin apa? Kamu masih jadi pengguna aktif Instagram, masih memiliki hubungan dengan banyak perempuan. Jadi? Kamu boleh cemburu aku dekat dengan orang lain dan aku tidak? Penemuanku membuat aku langsung memilih diam dan duduk di depan meja belajar. Duduk sambil membuka foto-foto ketika kita masih bersama.  Kamu menghampiri aku, berusaha bertanya kenapa aku diam. Kamu masih belum peka? ‘Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba gini? Kan kamu sekarang udah punya pacar, yaudah terserah kamu juga mau kamu deket sama siapa juga terserah kamu. Mau kamu pacaran sama dia, deket sama cowo lain terserah. Aku udah 22, tahun ini udah mau 23, aku gamau main-main lagi kalau pacaran. Kan kamu tau sendiri aku pengen sendiri dulu. Kalaupun cari pacar juga aku bakal cari yang bisa aku ajak serius.’ Itu kalimat yang keluar dari mulut kamu waktu aku berusaha menahan rasa cemburu yang berlebihan. Maaf, terlalu mendramatisir keadaan. Aku memang masih sayang dan masih belum bisa melupakan semuanya. Kamu suruh aku melakukan hal apapun yang membuat kamu senang pasti aku bakal lakuin, sekalipun itu bakal nyakitin diri aku sendiri.





Dari semua hal yang kita lewatin malam itu, hal yang paling aku ingat adalah ketika aku berusaha ngebuat kamu ga pulang. Menggenggam tangan kamu seraya menarik hoodie yang kamu kenakan. Memeluk kamu dari belakang dan bilang ‘Aku gamau kamu pulang, Aku gamau kamu pergi, Maafin aku.’ Cuma itu kalimat yang bisa aku ucapin disituasi kaya gitu. Sambil berusaha nahan nangis, sambil berusaha tetap senyum. Kamu lebih milih buat pergi. Aku nganter kamu sampai di depan gerbang. Kamu berusaha memakai jas hujan yang warnanya mirip seperti parka yang aku punya. Aku masih sempat melontarkan banyolan-banyolan yang membuat kamu tertawa, membuat pencitraan bahwa aku baik-baik saja, padahal tidak. Kamu tahu hal terberat dari semuanya? Berusaha tetap biasa dan tidak cemburu melihat kamu dekat dengan yang lain. Buat kamu mungkin menyuruh seseorang untuk move on lebih gampang daripada melakukannya. Coba kamu yang diposisi aku, apa kamu bisa melupakan semuanya secepat itu?



0 komentar:

Poskan Komentar

Soundcloud Rara Sabria

 

Sabrianora Putri Rosadi ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review