Jumat, 12 Oktober 2012

Sistem Penginderaan Jauh dan Citra (Image)

Diposkan oleh Rara Sabria di 21.23
Reaksi: 

Tugas Mata Kuliah
Pengolahan Data Citra
Review Materi Sistem Penginderaan Jauh dan Citra (Image)
Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, MT

Sistem Penginderaan Jauh dan Citra (Image)
( Pertemuan 2)

unduhan.jpg
Disusun oleh
Sabrianora Putri Rosadi
21040111060004


PROGRAM STUDI DIPLOMA III
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012


Sistem Penginderaan Jauh dan Citra (Image)
A.      SISTEM PENGINDERAAN JAUH
1.       Tenaga Untuk Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh dengan menggunakan tenaga matahari dinamakan penginderaan jauh sistem pasif. Penginderaan jauh sistem pasif menggunakan pancaran cahaya, hanya dapat beroperasi pada siang hari saat cuaca cerah. Penginderaan jauh sistem pasif yang menggunakan tenaga pancaran tenaga thermal, dapat beroperasi pada siang maupun malam hari. Citra mudah pengenalannya pada saat perbedaan suhu antara tiap objek cukup besar. Kelemahan penginderaan jauh sistem ini adalah resolusi spasialnya semakin kasar karena panjang gelombangnya semakin besar.
2.       Atmosfer
Tenaga elektromagnetik pada penginderaan jauh sistem pasif dan sistem aktif untuk sampai di alat sensor dipengaruhi oleh atmosfer. Atmosfer mempengaruhi tenaga elektromagnetik yaitu bersifat selektif terhadap panjang gelombang, karena itu timbul istilah  “Jendela atmosfer”, yaitu bagian spektrum elektromagnetik yang dapat mencapai bumi. Adapun jendela atmosfer yang sering digunakan dalam penginderaan jauh ialah spektrum tampak yang memiliki panjang gelombang 0,4 mikrometer hingga 0,7 mikrometer.
3.       Sensor
Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spectrum elektromagnetik. Semakin kecil objek yang dapat direkam oleh sensor, maka semakin baik kualitas sensor itu dan semakin baik kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil/resolusi spasial dari citra.
SPEKTRUM DAN SISTEM SENSOR
PANJANG GELOMBANG (µm)
KEMAMPUAN MENGATASI KENDALA CUACA
SAATPENGINDERAAN
Ultra Violet
= Optical mechanical scanner
= Image orthicon
= Kamera dengan film infra merah
TAMPAK
= Kamera konvensional
= Multispektral Scanner
= Vidicon

INFRAMERAH PANTULAN = Kamera konvensional dengan film inframerah
= Solid state detector dalam scanner
= Radiometer
INFRAMERAH THERMAL
= Solis state detector dalam Scanner dan radiometer
= Quantum detector 
GELOMBANG MIKRO
= Scanner dan Radiometer Kabut/ awan
= Antena dan siecuit 
RADAR
= Scanner dan Radiometer
= Antena dan Sircuit 
0,01 - 0,4 

0,4 - 0,7



0,7 - 1,5



3,5 - 30,0


103 – 106



8,3 x 10
31,3 x 106




Kabut Tipis


Campuran asap dan kabut



Kabut tipis, asap

Kabut tipis, asap

Kabut tipis, asap, awan hujan

Siang


Siang, kecuali bila digunakan penyinaran aktif



siang


siang - malam



siang - malam


siang - malam
4.       Perolehan Data
Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dengan interpretasi secara visual, dan dapat pula dengan cara numeric atau cara digital yaitu dengan menggunakan computer. Foto udara pada umumnya diinterpretasi secara manual, sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik dapat diinterpretasi secara manual maupun secara numerik.
5.       Pengguna Data
Penggunaan data (orang, badan, atau pemerintah) merupakan komponen paling penting dalam penginderaan jauh karena para penggunalah yang dapat menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. Data yang dihasilkan mencakup wilayah, sumber daya alam suatu negara yang merupakan data sangat penting untuk kepentingan orang banyak, maka data ini penting dijaga penggunaannya.
B.      JENIS CITRA
Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan citra non foto (non-photograpyc image).
1.       Citra Foto
Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar yaitu:
a.    Spektrum Elektromagnetik yang digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas:
1)    Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa obyek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi; tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan kapur.
2)    Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
3)    Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air permukaan.
4)    Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang 0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
5)    Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.
b.    Sumbu Kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu:
1)    Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph) yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2)    Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar.Tapi bila sudut condongnya masih berkisar antara 1 – 4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal
c.     Sudut Liputan kamera Paine (1981) membedakan citra foto berdasarkan sudut liputan (angular coverage) atas 4 jenis.
Jenis kamera
Panjang Sudut
Jenis foto
fokus liputan
Sudut kecil (narrow angle)
Sudut normal (normal angle)
Sudut lebar (wide angle)
Sudut sangat lebar (super-wide angle)
304,8 
209,5
 
152,4
 
88,8
< 60o 
60 - 70o
 
75 - 100o
 
> 100o
Sudut kecil 
Sudut normal/standar
 
Sudut lebar
 
Sudut sangat lebar
Tabel 3.2. Jenis foto berdasarkan sudut liputan kamera
d.    Berdasarkan jenis kamera yang digunakan foto dapat dibedakan atas:
1)    Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar foto.
2)    Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan daerah liputan yang sama.
e.    Warna yang digunakan:
1)    Foto berwarna semu (false color) atau foto infra merah berwarna. Pada foto berwarna semu, warna obyek tidak sama dengan warna foto. Misalnya vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spektrum infra merah, tampak merah pada foto.
2)    Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna.
f.     Sistem wahana berdasarkan wahana yang digunakan dibedakan:
1)    Foto udara yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.
2)    Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.
2.    Citra Non Foto
Citra non foto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. dibedakan atas:
a.    Spektrum elektromagnetik yang digunakan
Berdasarkan spektrum, Citra Nonfoto dibedakan atas:
1)    Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum infra merah thermal. Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan atas beda suhu obyek dan daya pancarnya pada citra tercermin dengan beda rona atau beda warnanya.
2)    Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan sektrum Gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah.
b.    Sensor yang digunakan Berdasarkan sensor yang digunakan, citra non foto terdiri dari:
1)    Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan sensor tunggal, yang salurannya lebar.
2)    Citra multispektral, yakni cerita yang dibuat dengan sensor jamak, tetapi salurannya sempit.
c.     Wahana yang digunakan Berdasarkan wahana yang digunakan, citra non foto dibagi atas:
1)    Citra dirgantara (Airbone image), yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara). Contoh: Citra Infra Merah Thermal, Citra Radar dan Citra MSS.
2)    Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar.
DAFTAR PUSTAKA
http://andimanwno.files.wordpress.com/2010/08/penginderaan-jauh.pdf. Diunduh, Senin, 11/09/2012 Pukul 16.05 WIB.

0 komentar:

Poskan Komentar

Soundcloud Rara Sabria

 

Sabrianora Putri Rosadi ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review