Selasa, 18 September 2012

Implikasi Teori Von Thunen Pada Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota

Diposkan oleh Rara Sabria di 14.23
Reaksi: 

Tugas Mata Kuliah
Analisis Lokasi dan Pola Ruang (TKP 149P)
Implikasi Teori Von Thunen Pada Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota
Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, MT

Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota
( Pertemuan 3)
Disusun oleh
Sabrianora Putri Rosadi
21040111060004
 

PROGRAM STUDI DIPLOMA III
PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012

IMPLIKASI TEORI VON THUNEN PADA ZONA LAHAN DAN STRUKTUR RUANG KOTA
A.      PENDAHULUAN
Johann Heinrich von Thünen merupakan seorang ekonom yang menjanjikan pada abad ke-19. Von Thunen adalah seorang tuan tanah asal Mecklenburg (sebelah utara Jerman) yang merupakan pionir teori pemanfaatan tanah. Dalam buku karangannya yang berjudul Der Isolierte Staat in Beziehug suf Land Wirtshaft (1826) yang kemudian dialihbahasakan oleh Peter Hall menjadi The Isolated State to Agriculture (1966), beliau mengembangkan rumusan pertama mengenai teori ekonomi keruangan yang kemudian dihubungkan dengan teori sewa (rent).
Von Thunen mengidentifikasi perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan atas dasar perbedaan sewa lahan. Beliau menyatakan bahwa semakin dekat dengan pusat, maka harga sewa tanah akan semakin mahal, dan semakin jauh jarak dari pusat, harga sewa tanah akan semakin rendah.
IMPLIKASI TEORI VON THUNEN
Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.
Von Thunen secara umum mengemukakan bahwa pada pusat kota lahan difungsikan sebagai commercial center, dimana menjadi CBD (Central Bussines District) dari lahan tersebut, sebagai pusat perdagangan barang dan jasa. Kemudian diikuti lingkaran terluarnya sebagai manufacturing place, yaitu tempat segala industri. Lingkaran terluar menjadi residence place, tempat dilokasikannya pemukiman. Diagram cincin Von Thunen tersebut biasa dikenal dengan istilah “Model Zona Sepusat”.
Pada perkembangannya, muncul teori-teori yang menanggapi model cincin Von Thunen tersebut, yaitu ketiga teori dasar pola penyebaran guna lahan kota:
a. Teori Konsentris (Burgess)
Dimana kota meluas secara merata dari suatu inti asli atau CBD (Central Bussiness District), sehingga tumbuh zona yang masing-masing sejajar secara simultan dan mencerminkan penggunaan lahan yang berbeda.

b. Teori Sektoral (Homer Hoyt)
Dimana pengelompokan tata guna lahan menyebar dari pusat kea rah luar berupa sektor (wedges) akibat dari kondisi geografis dan mengikuti jaringan transportasi. Dimungkinkan tata guna lahan yang bercampur (mixed use) di tiap sektor.
c. Teori Multiple Nuclei (Harris Ullman)
Dimana pertumbuhan kota bermulai dari satu pusat (inti) menjadi kompleks oleh munculnya kutub-kutub pertumbuhan baru. Di sekeliling pusat-pusat (nucleus) baru itu akan mengelompok tata guna lahan yang berhubungan secara fungsional.
Perkembangan pola penyebaran guna lahan tersebut diantaranya disebabkan oleh urbanisasi dan perkembangan akses yang kemudian memperluas distribusi fungsi lahan perkotaan itu sendiri. Hal tersebut akan menyebabkan munculnya zona-zona lahan sesuai fungsi atau tata guna lahannya, serta akan menyebabkan munculnya struktur ruang kota tertentu berdasarkan zona lahan tersebut. Oleh karena itulah teori Von Thunen juga menjadi dasar sekaligus stimulus munculnya teori-teori lain mengenai perkembangan pola penyebaran, sebagai implikasi terhadap zona lahan dan struktur keruangan kota.
B.      KESIMPULAN
Teori Von Thunen mengemukakan bahwa pertumbuhan lahan perkotaan akan membentuk diagram cincin, dengan lingkaran dalam sebagai pusat perdagangan barang dan jasa, lingkaran tengah sebagai daerah industri, serta lingkaran terluar sebagai lokasi permukiman. Teori dasar tersebut kemudian berkembang menjadi tiga teori yang berkaitan dengan pola penyebaran fungsi lahan, yaitu teori konsentris, sektoral, dan multiple nuclei.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model cincin Von Thunen menjadi pelopor munculnya teori-teori lain, yang menunjukkan implikasi teorinya terhadap zona lahan berdasarkan fungsi atau tata guna lahan serta pada struktur keruangan kota yang terbentuk. Melalui adanya perbedaan antara zona lahan dan struktur ruang kota mengindikasikan bahwa kegiatan tertentu hanya mampu membayar pada tingkat tertentu, harga tersebut pada dasarnya adalah sewa terhadap aksesibilitas atau jaringan transportasi yang dipengaruhi oleh letak lokasinya terhadap pusat kota. Selain faktor tersebut gaya hidup dan perilaku juga mempengaruhi tingkat harga tersebut.
C.      DAFTAR PUSTAKA
http://www.perencanaankota.com/rencana-struktur-ruang.html. Diunduh, Rabu 12/09/2012 Pukul 20.55 WIB

0 komentar:

Poskan Komentar

Share It

Soundcloud Rara Sabria

 

Sabrianora Putri Rosadi ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review